C I X A

Emo Bukan Cacian ku

enam langkah sukses bikin band emo

Posted by cixa pada Desember 18, 2007

beneran harus ngulik

Mulanya cuma suka. Lalu kepikiran untuk memainkannya. Ketika emo jadi pilihan, apa yang kudu kita lakukan?

 

Banyak temen kita yang hobi musik niat banget bikin band emo. Genre (kalo boleh disebut sebuah genre) itu memang lagi rame belakangan ini. Coba simak, lagu-lagu dari Dashboard Confessional, Finch, atau My Chemical Romance (MCR) sering banget diputar di radio.

Nah, nggak salah dong kalo sebagian dari kita atau temen kita lantas pengen ikutan mainin emo? Toh ngeband kan hak asasi semua manusia (apa sih?).

Tapi, supaya nggak tanggung, mending kita tahu dulu beberapa hal sebelum bikin band emo. Biar nggak cupu dan nggak melenceng.

 

1. Cari personil

Tanyain dulu background musik mereka. Suka denger musik apa? Kalo mereka suka dengerin jazz mending nggak usah diajak. Nggak nyambung soalnya. Terus kalo bisa skill musiknya setara semua. Biar gampang dan nyambung. Kan nggak lucu kalo ada salah satu personil masih basic banget skill-nya.

Terus kalo bisa masing-masing personil punya visi yang nyambung. Ini bisa diliat dari referensi yang dikulik. Kalo ada yang dengerin punk dengan segala turunannya bisa ditarik tuh. Secara akar musik emo bermula dari punk dan hardcore punk.

 

 

2. Perkaya referensi musik

Band emo bukan cuma Dashboard Confessional, Finch atau MCR doang. Nih musik nggak ujug-ujug nongol ke muka bumi. Ada evolusinya. Nah supaya asik, mending kita perkaya referensi musik. Emang rada susah nyari musik-musik emo awal. Soalnya band-band yang ikut melahirkan musik ini masuk kategori indie. Karena itu distribusinya terbatas.

Ada beberapa nama yang dikenal sebagai pengusung emo awal (emocore). Misalnya, Rites of Spring, Fugazi, Jawbreaker, atau Fuel. Ciri khasnya adalah: personil band-band ini “mantan” pengusung hardcore punk. Kemudian berevolusi menjadi band pengusung rock dengan orientasi gitar, tempo lagu sedang, dan vokal gaya punk.

Maju dikit, kita bergerak ke style emo. Di sini ada kelompok seperti Shotmaker, Moss Icon, the Hated, Silver Bearings, Native Nod, Merel, Hoover, Evergreen, Navio Forge, Still Life, Shotmaker, Policy of Three, Noneleftstanding, Embassy, Ordination of Aaron, Floodgate atau Four Hundred Years.

 

 

3. Pake gear khusus

Beberapa band emo pada fase awal perkembangannya banyak yang memakai alat-alat berkaraketeristik khusus. Kayak gitar Gibson Les Paul, SG, dan amplifier Marshall JCM-800. Ini penting karena sound yang keluar dari alat-alat ini punya signature sound yang cocok banget buat musik emo. Apakah berarti kalo nggak ada alat-alat tersebut kita nggak jadi main musik emo? Ya nggak juga sih. Alat-alat itu cuma bikin style dan emosi yang keluar jadi pol. Kalo punyanya gitar Fender atau Peavey misalnya ya nggak apa-apa juga.

 

4. Belajar ekspresif

Ekspresif? Ya, betul. Emo kan berasal dari kata “emotional”. Emo adalah sebuah kata yang mewakili berbagai macam gaya turunan punk rock dengan tingkat emosi tinggi. Jadi kalo mau main musik emo, emosi harus dikedepankan. Bukan marah-marah ya, tapi lebih ke penjiwaan yang dalam.

Sekadar contoh aja nih, musik yang keluar bakal lebih ultra-soft, raungan gitar SG atau Gibson, gaya bernyanyi berbisik dan sesekali berteriak. Untuk gitar salah satu gaya yang selalu muncul adalah octave chord.

Kord oktaf tuh kalo di gitar kira-kira kayak begini. Main kord A flat. Satu nada A di fret 5 senar 6 bakal ditemani satu nada A di fret 7 senar 4. Nah itu kord oktaf namanya. Kord oktaf bakal bikin pitcht yang tinggi saat sound gitarnya keluar serta sangat kaya tekstur. Itu sebab gitar Gibson SG plus Marshall JCM-800 combo sering dipake anak-anak emo.

Semuanya ini nggak maksimal kalo penjiwaaan yang keluar dari masing-masing personil cetek. Esensi emo baru keluar kalo band kita mengeluarkan semua emosi yang ada ke dalam musik dan lagu.

 

5. Bikin lirik yang personal

Salah satu ciri emo yang lain adalah lirik lagu yang sangat personal dan dalam artinya. Nggak harus soal kondisi sosial, kondisi pribadi juga sah-sah aja. Syaratnya cuma satu: emosi kita bener-bener tercurah di sini. Meski kesannya egois, esensi lirik musik emo adalah cerita yang erat banget hubungannya sama kita.

Nah, kalo mau bikin lagu sendiri, pastiin tuh lirik lagu yang kita besut dalem maknanya buat kita. Yang pada akhirnya bikin orang yang denger ikut larut sama cerita lagu. Kita mungkin pernah membatin saat denger sebuah lagu: “Wah nih lagu gue banget nih liriknya!” Nah efek itu yang dicari.

 

7. Bergaya Emo

Nggak lengkap rasanya kalo mainin emo tapi nggak bergaya emo. Untuk bergaya emo ada beberapa hal yang kudu diperhatiin.

  • Kepala. Kalo punya rambut lurus, rambut harus hitam (nggak boleh dicat pirang) di potong lurus disisir menyimpang ke samping lewat jidat. Terus di bagian kuping potong yang tinggi. Sedikit spike juga boleh tuh. Kalo rambut keriting mending dibotakin aja.
  • Pake tato bisa jadi pilihan.
  • Kalo pake kacamata pastiin frame-nya dari berwarna hitam. Kalo nggak punya, cari aja frame hitam yang tebal. Inget aja kacamata yang dipake River Cuomo-nya Weezer.
  • T-shirt warna gelap yang rada kecil. Kalo perlu beli yang buat anak-anak.
  • Pake jaket denim corduray
  • Cardigan yang rada sempit atau V-neck sweater
  • Kalo bernyali pake make-up juga boleh.

di kutip dari : HAI OL.

Posted in style | 7 Comments »

Gothic-ism, Pandangan? Art? Culture? Atau Sekedar Style?

Posted by cixa pada Desember 18, 2007

“….Free our minds and find a way. The world is in our hands, This is not the end….”
(Within Temptation).

“[Goth] is the ability to find the art where art seems to be lacking to find the light in the darkness and embrace it for all its worth…” (Jennifer Mason).

Aaakh… Banyak orang yang sering salah paham tentang gothic-ism. Bahkan kadang kali banyak tanggapan yang sering melenceng tentang penganut gothic-ism. Ada yang bilang bahwa penganut gothic-ism juga terkait dengan penganut satanism, kekerasan, suicidal, seniman, dll (perasaan ga gitu-gitu banget). Okeyh… Sekarang gw coba lurusin dulu apaan tuch gothic-ism, tapi pertama-tama be open minded dulu.

Dari sejarahnya, kata gothic itu sendiri datang dari nama sebuah suku bernama Visigoth dari Jerman. Kaum Barbar yang bikin kerajaan Romawi kocar-kacir. Trus berkembang lagi jadi gaya arsitektural yang gelap dan gloomy ala Eropa Barat abad ke12 sampai ke abad 16. Gerakan awal dimulai dari sebuah Nightclub pada awal 1980-an di Inggris. Lalu berkembang dengan cara “nebeng” menjadi salah satu komponen punk rock. En’ dengan komunitas paling besar di California.

Apaan sich gothic culture? Definisi tentang gothic culture itu masih sangat luas dan belum bisa didefinisikan, karena belum ada peneliti yang benar-benar niat buat jadiin ini sebagai salah satu ilmu. Intinya sich begini, itu semua terserah masing-masing individu pengen ngartiin gothic bagaimana bentuknya. Yang pasti para gothic-ism mempunyai mentalitas yang termasuk unik, “Gw maunya sendiri tapi pengen dilihat orang. En’ gw paling demen klo orang-orang kaget ngeliat gw.” (capek dech…). Yang biasanya bisa dikenali lewat :

  1. musik yang unik, seni dan literatur,
  2. penggunaan baju hitam berlebihan (dengan makeup pucat, potongan rambut yang ngga biasa, body piercing, alat-alat bondage, dll),
  3. tergila-gila terhadap sejarah abad pertengahan, victorian atau edwardian,
  4. penggunaan simbol salib Kristiani, jimat Mesir, bintang segi 6 ala Wiccani, bintang segi6 satanisme, dll.

Sebenarnya para gothess (pecinta gothic) itu ngga se-gelap yang lu kira, para gothess sebenarnya adalah orang yang anti-kekerasan, damai dan toleran. Para gothess banyak yang menulis kalau mereka mengalami depresi, desperate, keluarga yang disfungsional, masa kecil yang kelam, marah, kecewa, sedih dan benci. Percaya atau tidak, semuanya ini ditulis di dalam 640 web yang ada di dalam gothic web ring, dan isinya rata-rata sama. Kebanyakan gothess memang menyukai main game-game RPG (role-playing game), bukannya karena cupu atau memiliki fantasi yang berlebihan, tetapi dikarenakan adanya tantangan kreatif dan mengasah otak di dalamnya.

Kenapa akhir-akhir ini gothic selalu dikaitkan dengan agama dan kepercayaan? Hal itu dikarenakan artis yang selalu berdandan gothic yang dikenal dengan nama Marilyn Manson diangkat menjadi pendeta di gereja setan, oleh Anton Lavey. Awalnya sih sepihak, tapi lu pada tau khan gimana akhirnya. Ngga semua gothess pengikut gereja setan. Banyak gothess yang masih memegang kristianitas mereka, atheisme, agnoticism, new age, gnosticism, shamanisme, wicca, tradisi neopagan, dan kepercayaan-kepercayaan minoritas lainnya.

Musik-musik goth sendiri, oleh media selalu dikaitkan dengan topik-topik yang memprovokasi, serba satanisme, rasial, perang, kebencian terhadap golongan tertentu, dll. Padahal ga sebegitunya. Referensi musik bagi yang tertarik dengan goth-music : NIN, a Perfect Circle, Tweaker, Professional Murder Circle, Cradle of Filth, HIM (His Infernal Majesty), Sopor Aeternus, Within Temptation, Lacuna Coil, Bauhaus, Siouxsie and The Banshees, the Sisters of Mercy, Dead Can Dance, Moi dix Mois, Malice Mizer, Blood, Earl Grey, Madeth Gray’ll, Kana, Amadeus, Mirage, Merry Go Around.

So… Are you Goth enough ?  (D’etoire)

di kutip dari : RTF.

Posted in style | 1 Comment »

EMO Musik ku.

Posted by cixa pada Desember 18, 2007

Sebenarnya susah juga untuk mendefinisikan musik emo itu sendiri seperti apa. Ironis memang, padahal kita gampang banget menstereotipkan seseorang sebagai emo kids tapi di sisi lain susah banget buat kita untuk mendefinisikan musik emo itu sendiri.

Anyway, basicly kata emo didapat dari kata “Emotional”, dan musik ini awalnya merupakan salah satu anak-an dari musik punk. (pasti lo tau lah). Umumnya sih, dituangkan ke dalam lirik yang emosional cenderung cengeng, melodius, puitis dan dibalut dengan teriakan-teriakan luapan emosi, terutama emosi yang tak terbendung setelah band metal anda selalu gagal lolos di audisi acara-acara sunatan massal. (hehehe, tae ah!)     

Genre musik ini tuh mulai berkembang di akhir tahun 80an dan awal-awal 90an, sebagai sesuatu “label” yang awalnya diberikan kepada band punk di Washington DC saat itu, yang notabenenya memiliki permainan gitar lebih keras dari kebanyakan band punk. Dan alhasil genre musik ini dikenal sebagai musik “DC Punk”.

Pada tahun 1984 sejarah mencatat band hardcore-punk Hüsker Dü, sebuah band yang memberikan influence yang kuat pada band DC Punk lainnya  kayak Faith, Rites of Spring dan Embrace. Merilis album keempat yang bertitel “Zen Arcade”. Album inilah yang menjadi sebuah album legenda saat itu.

Untuk informasi Embrace sendiri adalah band yang dibentuk oleh Ian MacKaye, yang sebelumnya menjadi vokalis band kenamaan Minor Threat.

Sementara itu di sisi lain, walaupun Rites of Spring berhasil menghasilkan sebuah full album dan satu EP, band ini tidaklah bertahan lebih dari 2 tahun. Dan sebagai seorang rockstar, lead vocal Guy Picciotta merasa terpanggil untuk membentuk sebuah band baru lagi bernama Fugazi, yang nantinya band ini menjadi salah satu pionir di perkembangan musik emo.

Kekompleksan musik plus vokal yang intens dan juga penulisan lirik yang introseptif menghasilkan evolusi Emo dari tahun 1982 – 1992 dengan band–band seperti INDIAN SUMMER, MOSS ICON, POLICY OF THREE, STILL LIFE dan NAVIO FORGE.

Dinamika ‘kekerasan’ sering terdengar dari grup–grup tersebut yang akhirnya melahirkan band-band pioner baru Emo di evolusi berikutnya, yakni SAETIA dan THURSDAY di tahun 1997. Secara vokal, band tersebut memiliki style Emocore, dengan ciri terlalu sering memunculkan suara tangisan atau malah teriak penuh penyesalan.


Perubahannya

Walaupun influence dari Fugazi dan DC sound sangat substansial, sepanjang kita tahu, musik emo sekarang tidak semata-mata terbentuk hanya dari hardcore scene. Karena dengan seiringnya bergesernya jaman, para musisi emo lainnya memunculkan musik emo dengan gaya yang lebih “lembek”.

Anehnya lagi, emo malah menjadi musik yang lebih lambat seiring dengan munculnya band seperti Sunny Day Real Estate (Seattle) dan  Mineral (Texas). Mereka mencampurkan komposisi musik yang lebih lambat, lembut, gaya yang emosional, menggabungkan sound emocore dari Rites of Spring dan inovasi musik Post Hardcore ala Fugazi.

Range musik ini pun makin luas seiring dengan suksesnya band-band macam At The Drive In, Jimmy Eat World, The Get Up Kids dan Thursday. Media mainstream pun makin tertarik untuk membahasnya dan hal ini pulalah yang membuat musik emo semakin pop (baca:populer).

The Used, Finch, Story of the Year, Funeral for a friend, sampai band emo akustik macam Dashboard Confessional dan Bright Eyes yang santer terdengar saat ini jelas menjadi suatu contoh yang signifikan dimana musik emo menjadi lebih pop.

Hey They’re Not Emo, dude!”

Lebih gilanya lagi, saat pionir-pionir lama band Emo angkat bicara. Mereka menyatakan bahwa kebanyakan band-band yang terlanjur dan mencap dirinya sebagai band emo tidak mempunyai ciri khas sebagai band emo. Nah lho! Tapi yang jelas sih walaupun band-band tersebut dibilang bukan sebagai bagian musik emo oleh para pencetusnya. Tapi tetep aja mereka disebut  sebagai band emo oleh para fans, terutama oleh media-media mainstream yang ada.

 Yang jelas fenomena genre Emo ini akan terus berkembang seiring terus berjalannya tingkatan depresi yang ada. Sebab pada dasarnya semua musik yang ada selalu mengalami perkembangan, dan sebisa mungkin menghindari stagnansi. Apalagi  karena para artisnya selalu ingin mendobrak batasan-batasan yang ada, they always striving to be different, striving to be original. Dan tidak ada seorang  true musician yang ingin “ put in a box” mereka selalu ingin “out of the box”.

Itulah sebabnya banyak juga band-band yang menolak terjebak di dalam stereotip “emo”, mereka menolak untuk di”label-kan”sebagai sebuah band emo, contohnya band-band seperti Jimmy Eat World dan At the Drive In (bubar).

 

dikutip dari : Rock to Folio.

Posted in Musik | 2 Comments »

FINCH

Posted by cixa pada Desember 18, 2007

FINCH

ini band yang paling cika suka,

apa teman temang pernah mendengar lagunya??

kasih tanggepan kamu yah..

. cix

Posted in Musik | 2 Comments »

Avril Lavigne

Posted by cixa pada November 28, 2007

Wanita berkelahiran Ontario, Canada, pada 29 September 1985 ini telah memulai karirnya sejak umur 13 tahun. dia dikenal sebagai cewek yang tomboi.

dan hingga saat ini dia telah mengeluarkan 3 album. album pertama ia rilis pada tahun 2002 lalu yang Let Go, lagu-lagu didalamnya adalah ciptaannya. Dengan mudah album tersebut laris dipasaran. Dengan album pertama itu Avril mulai dikenal dipasaran. Tak mau kehilangan prioritasnya, pada tahun 2005 ia mengeluarkan album ke-2 yang di beri tajuk Under My Skin. Sama seperti album pertama, hasilnya begitu mencuat di pasaran. Namun pada album ke-2 ini lagu-lagu didalamnya lebih terasa dewasa dari pada album pertama.

namun, dengan kesibukan yang super, dalam jangka waktu 2tahun Avril dapat mengeuarkan album ke-3 nya. Di album ini bisa kita bilang lagu-lagunya lebih keras dari pada album-album sebelumny. Namun tak sama penampilannya, yang kini juga semakin seksi,,

owh…

i hate!!!

aku benci liad Avril yang  sekarang,,,

gimana dengan kamu???

Posted in Musik | 8 Comments »